Pameran Heri Dono ‘Animachines’ Di Färgfabriken, Stockholm

This post is also available in: en

"Oxymoronia" Located in the main hall of Färgfabriken photos by FREDRIK SVEGER

“Oxymoronia”
Located in the main hall of Färgfabriken
photos by FREDRIK SVEGER

Dari tanggal 28 Maret hingga 28 Juni 2015, Färgfabriken menyelanggarakan pameran pertama karya Heri Dono yang berjudul‘Animachines’ di Stockholm, Swedia. Färgfabriken dibuka pada tahun 1995, sebagai tempat untuk berbagai macam pameran dan aktivitas di bidang seni, arsitek dan pembangunan kota, mempersembahkan karya- karya eksperimental dan interdisipliner untuk membuat pengunjung berpikir secara kritis dan tinggal dengan pengalaman yang berkesan.

Sebagai komitmen panjang bekerja dengan Indonesia, Färgfabriken menunjukan karya-karya Heri Dono dengan pengalaman visual yang mengekspresikan keunikan seniman kontemporer ini dengan style-nya yang provokatif tetapi menarik perhatian.

Pameran Heri Dono di Färgfabriken ini bekerja sama dengan KBRI Stockholm. Saat pembukaan pameran, Dubes RI Stockholm Dewa Made J. Sastrawan menyatakan bahwa ‘Animachines’ adalah sebuah kisah kehidupan yang mengingatkan kita adalah wayang-wayang yang memainkan peran sendiri dan digerakan oleh dalang yang tak terlihat, dimana Heri Dono sendiri yang berperan sebagai dalang pameran ‘Animachines’ ini.

23iht-rartdono23a-master675

“Going to the Angels’ Freedom”

Dengan mengkombinasikan animasi dan animisme, Heri Dono mempersembahkan tiga belas karya instalasi yang mempertemukan kedua hal tersebut secara kreatif, penuh antusiasme dan rasa penasaran dalam mempertanyakan budaya dan sosio-politik akibat pengaruh globalisasi dan demokrasi Indonesia. Bersama kepercayaan animasi sebagai teknik yang memberi kehidupan, Dono memakai animisme yang memberikan jiwa kehidupan ke dalam objek-objek.

Heri Dono menggabungkan dua ide animasi dan animisme sebagai respons dan cerminan pengalaman hidupnya melalui semangatnya untuk berkarya dan tumbuh di Jakarta. Heri Dono mengalami pertumbuhannya di jaman Orde Baru saat Presiden Suharto berkuasa dengan pemerintahan militer.

Selama 32 tahun, bangsa Indonesia berada di bawah rezim otoriter dengan pemerintah yang represif. Sejak demokrasi Indonesia pada tahun 1998, situasi-situasi sosio-politik di Indonesia masih melalui reformasi sebagai bangsa bermasyarakat demokratis. Karya-karya Heri Dono mencerminkan dan mengkritik pertumbuhan masa kecilnya dan demokrasi Indonesia dengan persepsinya saat ini.

"Three Presidential Candidates"

“Three Presidential Candidates”

Dengan animasi and animisme, dua subjek berbeda tersebut digabungkan sebagai respons Heri Dono dari pengertian dan pengalaman kehidupannya yang ia lalui berkarir sebagai seniman kontemporer. Bersama kepercayaan animasi sebagai teknik yang memberi kehidupan, Dono memakai animisme yang memberikan jiwa kehidupan ke dalam objek- objek.

Dari semangat, inspirasi dan keingintahuan ilmu-ilmu baru, Heri Dono dapat motivasi dari Ki Sigit Sukasman, pencipta wayang ukur, yang mengajar Dono berkarya dengan dasar pertunjukan wayang diiringi dengan gamelan. Sukasman mengadaptasi gaya wayang yang beda dengan memainkan jarak ukur wayang-wayang untuk menghasilkan bayangan yang lebih jelas dan berkarakter. Seni wayang menggabungkan perbedaan di seni rupa, sastra, pentas seni, dan musik, menyatukan narasi dan konsep. Setelah kesuksesan pertunjukan pertama ‘Wayang Legenda’ pada tahun 1988 di Seni Sono Gallery, Dono mengarahkan jalur seninya dalam eksplorasi bebas dan menghubungkan ide-ide yang berlawanan untuk membentuk observasi baru.

Karya-karya Heri Dono tidak hanya mengagumkan saat dipamerkan, tetapi pengunjung juga terlibat dalam instalasi-instalasi tertentu yang diaktifkan dengan pedal, mengundang keingintahuan mereka dengan karya-karya berjiwa mesin dari Dono. Konsep interaktif ini membuat koneksi dengan manusia – dengan melihat dan mendengar – dimana Dono menunjukan bahwa dia adalah dalang ‘Animachines’.

Pameran ‘Animachines’ ini dikurasi dan diselenggarakan oleh Färgfabriken dan akan lanjut ke LAT.63 art arena, di Frösö Park Östersund, Swedia, di musim semi 2015. Pada saat ini, Heri Dono merepresentasikan Indonesia di Venice Biennale dengan tema ‘Voyage’ (‘Perjalanan’), dengan karya instalasi besar berjudul ‘Trokomod’.

Karya-Karya Instalasi ‘Animachines’

‘Oxymoronia’
Ditempatkan di Main Hall Färgfabriken, para pengunjung disambut dengan figur  maskulin  mengendarai  sepeda motor,  digantung  seolah terbang dengan sayapnya. Sebagai pembukaan pameran, ‘Oxymoronia’ menggambarkan  kontradiksi  manusia  antara  pemikiran  fisik  dan mentalitas. Sepeda motor dilihat sebagai mesin yang berkesan ‘cool’ dan secara estetika merupakan benda yang keren, yang mementingkan pendekatan  secara fisik  dibanding  kepentingan  fungsinya.  Dengan banyak kejadian kecelakaan pengendara sepeda motor di Indonesia, ‘Oxymoronia’ mengkritik pemandangan manusia dengan penggunaan mesin tersebut, “Apa yang lebih penting, pengendara atau sepeda motornya?”

‘Fermentation of Brain’
Besar di jaman Orde Baru, ‘Fermentation of Brain’ adalah reaksi Heri Dono yang mengkritik sistem edukasi saat ia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Sebagai terapi dari dogma propaganda jaman sekolahnya, karya instalasi yang mengganggukkan kepala-kepalanya mencerminkan gerak literal dari murid-murid yang dididik dengan pola pikiran dimana guru atau pendidik selalu benar.

‘The Troops of Trojan Horse’
‘The Troops of Trojan Horse’ berupa sebuah respons komikal terhadap perkembangan militer setelah jatuhnya Orde Baru. Karya-karya bergantungan berbentuk wayang ini mempunyai wajah seperti badut, menggambarkan persepsi Heri Dono terhadap perubahan drastis untuk para tentara yang berekspresi penuh keraguan and ketidak-pastian masa depan mereka.

‘Operation Mind Control’
Suara magnet kecil berdenting di dalam gelas-gelas warung kopi mengalihkan perhatian pengunjung untuk mempelajari ‘Operation Mind Control’ dengan lebih dekat, karya yang merepresentasikan masyarakat Indonesia yang berada di bawah kekuasaan militer pada masa perspektif politik statis membataskan pendapat rakyat.

‘Periscope’
Selain mengkritik situasi di lingkungan kehidupannya, pameran Heri Dono mengundang kritik seperti di karya ‘Periscope’. Dipasang di atas panggung instalasi yang mempersilakan para pengunjung untuk naik dan mengobservasi 4 karya periskop tersebut, karya diorama-diorama bisa dilihat, menunjukan depiksi metafor perspektif Mandala: kesetaraan semua mahluk di alam semesta. Menyoroti elemen tanah, angin, api dan air, Dono menyatakan bahwa elemen-elemen ini ada di dalam tubuh manusia,  mengubah  definisi  jarak  antara  alam  semesta  dan individu, menganggapnya sebagai subyek dibanding obyek.

‘Watching the Marginal People’
Ide dari karya instalasi ‘Periscope’ bisa dilihat di instalasi ‘Watching the Marginal People’, karya berbaris dengan mata-matanya melirik dan gigi-giginya yang nyata, mengamati pengunjung yang mengobservasi  instalasi  ini.  Di  dalam  definisi  animisme,  karya  yang menarik perhatian pengunjung ini menyatakan jiwanya sebagai karya yang menonton para pengunung dibanding sebaliknya. Metafor karya ini mengungkapan arti dan tujuan pameran ‘Animachines’ secara literal. ‘Watching the Marginal People’ juga berkarakter sikap superioritas manusia dalam koleksi kepala binatang sebagai dekorasi dinding rumah dari hasil pemburuan, mencerminkan jiwa binatang di dalam manusia sendiri.

‘The Three Donosaurus’
Dari jauh terlihat tiga patung mutasi kepala dinosaurus dengan badan manusia berdiri menghadap para pengunjung, di depan tiga gendang bersuara keras di latar belakangnya. ‘The Three Donosaurus’ berupa persepsi paradoks tentang ras manusia kini karena barbarisme dan konsekuensi dari perkembangan menjadi manusia lagi, dengan permainan kata dengan nama senimannya sendiri untuk karyanya.

‘Wayang Legenda’
‘Wayang Legenda’ berupa instalasi video yang menayangkan pertunjukan wayang dari Desember 2014 di studionya Heri Dono, Studio Kalahan. Pertunjukan wayang ini adalah dedikasi untuk Ki Sigit Sukasman, mentor dan guru wayang Dono, yang menceritakan pertemuannya dengan seniman Vincent Van Gogh di dunia wayang.

‘Kereta Kencana Affandi’
Heri Dono mempersembahkan penghormatan kepada mentor dan teman dekatnya, Affandi, dengan tribut karya yang bisa lihat di ‘Kereta Kencana Affandi’. Saat jaman mahasiswanya, Dono sering kali berkunjung ke rumah Affandi untuk mempelajari seni dan karir dari salah satu seniman bernama di Indonesia. Dikaryakan dengan becak berjalan mundur, instalasi ini menggambarkan pendekatan artistik Affandi dengan teknik uniknya yang telah dan masih mempengaruhi sejarah metode seni.

‘Gamelan Goro-Goro’
Terinspirasi dari mempelajari wayang, proses keatif seni Heri Dono dirangsang dengan seni tradisi dan budaya Jawa, termasuk narasi pertunjukan wayang Mahabharata dan Ramayana. Dibuat dari materi daur ulang, ‘Gamelan Goro-Goro’ adalah instalasi bersuara kalem untuk mempersembahkan karakter-karakter seperti Semar dan Petruk yang tampil di adegan ‘Goro-Goro’. Karya ini menyalurkan reaksi tawa dan sorakan dengan suara air mengalir.

‘Raksasa’
Tribut untuk karakter seperti Semar dan Petruk bisa dilihat di karya menyendiri  di  dinding,  dimana  ‘Raksasa’  berdiri.  Walaupun  secara fisik karya ini tidak mengilustrasi namanya, karya patung ini secara konsep menggambarkan Dewa Ruci dari legenda Mahabharata.

‘Hoping to Hear From You Soon’
Sebagai seniman, Heri Dono tidak hanya berkarya dengan ide konseptual  yang menginspirasi  karya-karyanya  dari  budaya,  ilmu  filosofi dan cerminan isu-isu di lingkungannya, tetapi dari elemen-elemen literal seperti yang terlihat di ‘Hoping to Hear From You Soon’. Mirip dengan lukisan tenda warung, karya ini berupa parodi warung. Warung dikenal dengan kesejahteraannya yang membawa para individu bergabung dari kaum yang beragam, dengan berbagi cerita sambil menikmati hidangan yang disajikan.

‘Angels’
‘Angels’ adalah salah satu karya unik yang menggambarkan pengalaman hidup Heri Dono. Inspirasi karya ini berasal dari admirasi yang dimiliki Dono dalam membaca komik ‘Flash Gordon’ dan kekagumannya untuk hidup di Planet Mars pada masa kanak-kanaknya. Waktu Dono berusia 9 tahun (1969), Neil Armstrong menjejakkan kakinya di bulan, dan menjadi manusia pertama yang mendarat di bulan. Kejadian sejarah ini memberi kepercayaan kepada Dono bahwa inspirasi bergerak lebih cepat dari teknologi, mengeliminasi ketidakmungkinan untuk menciptakan berbagai macam mesin. Inspirasi ‘Angels’ yang melayang dari langit-langit ruangan pameran ini juga digambarkan dari pengalaman Dono tenggelam di Pantai Cilincing, Jakarta saat ia kecil.

Untuk informasi selanjutnya: http://www.fargfabriken.se/en/component/k2/item/1103-heri-dono atau kontak:
Emilia Rosenqvist, emilia@fargfabriken.se, +46(0)73-6442397.

Author: Akar Media

Share This Post On