Kain Gringsing

This post is also available in: en

kain-gringsing-dan-penari

kain-gringsing-dan-penari2Teknik pembuatan kain tenun dengan teknik ikat ganda (ikat ganda) adalah teknik yang hanya dimiliki oleh 2 tempat di dunia salah satunya di Desa Tenganan Bali, dimana kain tenun tersebut dikenal dengan nama Gringsing. Proses pembuatan sepotong kain tenun ini akan memakan waktu lebih dari satu tahun, dimana pewarnaannya menggunakan bahan-bahan alami yang memerlukan waktu yang sangat lama setidaknya 1 tahun. Kain Gringsing memiliki 3 warna: merah, kuning dan hitam yang disebut ‘tridatu’. Untuk warna merah menggunakan akar mengkudu, warna kuning menggunakan minyak kemiri dan warna hitam menggunakan kayu Taum.

Motif Wayang Kebo

Motif Wayang Kebo

Motif Gringsing kain tenun memiliki sekitar 20-an motif, namun sekarang di Desa Tenganan penggringsingan hanya terdapat 7 jenis saja. Diantaranya bercirikan kalajengking Lubeng, Sanan Empeg
bercirikan kotak poleng berwarna merah-hitam, bunga bercirikan cempaka Cecempakaan, Cemplong bercirikan sebuah bunga yang besar di antara bunga-bunga kecil, Gringsing diisi dengan semua motif,
bercirikan Tuung Batun dengan biji terong, dan Motif Wayang yang bercirikan tokoh-tokoh pewayangan.

Tingkat kesulitan yang tinggi dalam pembuatan sebuah kain Gringsing, baik dalam teknik pewarnaan dan penenunan, waktu yang dibutuhkan dan aturan adat yang selalu mereka pegang teguh menjadikan kain gringsing ini memiliki nilai yang sangat tinggi. Kain Gringsing ini di gunakan dalam upacara keagamaan di desa ini. Masyarakat Tenganan Pegringsingan yang menganut agama Hindu percaya bahwa segala sesuatu pekerjaan yang diawali dengan upacara keagamaan maka hasilnya akan baik dan memperoleh keselamatan.

Motif Lubeng

Motif Lubeng

Proses penenunan kain Gringsing sangat memperhatikan aturan yang sudah diwariskan secara turun temurun oleh leluhurnya. Mereka tetap menjaga dan melindungi keaslian setiap tata cara dan proses dalam pembuatan kain ini agar nilai-nilai ritual dalam keagamaan tetap terjaga.

Para penari menggunakan kain gringsing. Dalam kehidupan realitas keseharian kehidupan masyarakat Tenganan, berkesenian dipersembahkan berdasar atas nilai-nilai kepercayaan, keyakinan dan ajaran-ajaran ketuhanan. Keindahan yang tertuang berkembang secara tradisional dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kain Gringsing merupakan suatu keindahan dan persyaratan tersendiri yang digunakan dalam peristiwa upacara.

Author: Akar Media

Share This Post On