Pagelaran seni Bhineka Tunggal Ika

Purusadha Santa 

Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma

 

Hyāng Buddha tanpāhi Çiva rajādeva

Rwāneka dhātu vinuvus vara Buddha Visvā,

Bhimukti rakva ring apan kenā parvvanosĕn,

Mangka ng Jinatvā kalavan Çivatatva tunggal,

Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Hyang Buddha tiada berbeda dengan Siwa Mahadewa

(semua agama mengajarkan tentang hakekat kebenaran hidup)

Keduanya itu merupakan sesuatu yang satu

(Walaupun caranya yang berbeda)

Tiada mungkin memisahkan satu dengan lainnya

(Namun jiwa itu satu asalnya)

Karena hyang agama Buddha dan hyang agama Siwa sesungguhnya tunggal

(Nama,cara, menyebutkan dan tafsiran manusia saja,seakan itu berbeda). 

5 Agustus 2017, Bali, Purusadha Santa, sebuah fragmen tari yang dipilih dalam pementasan ini menceritakan seorang raja yang bernama Purusadha membuat janji kepada betara kala untuk memerikan 100 raja utk dikorbankan karena dirinya disembuhkan dari penyakit, dimana dalam perjalanannya Betara Kala menolak dan meminta hanya 1 orang saja yang memiliki sifat kebaikan yang bernama Sutasoma. Sutasoma adalah perwujudan dari Budha memiliki tiga murid yaitu Asti (gajah), Ula (naga) dan Mong (macan) yang merupakan dasardari Triaksara suci yaitu AUM, melakukan perjalanan dalam mencapai pencerahan. Saat akhir fragmen tari ini Betara Indra mengucapkan Bhineka Tunggal Ika, dimana Purusadha yang telah berubah menjadi Kala Rudra berusaha menangkap Sutasoma. Kedamaian pun terjadi diantara mereka semua.

Kakawin Sutasoma yang dibuat oleh Mpu Tantular pada abad 14 mengajarkan banyak budi pekerti, diantaranya adalah sikap toleransi terhadap agama. Kitab ini dikenal karena ada bagian bait yang diambil sebgai semboyan negara kesatuan Republik Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika.

Sutasoma organiser menyelenggarakan sebuah pagelaran seni yang menampilkan pementasan tari, pameran fotografi, topeng sutasoma, lukis dan kitab sutasoma yang terbuat dari daun lontar. Pagelaran seni ini di adakan di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma, Mas, Br Tegal Bingin, Bali

Kitab Sutasoma yang ditulis dalam bahasa sanskerta ini dibuat oleh bpk I Wayan Mudita Adyana, beliau merupakan salah satu sastrawan yang sangat senior. Karya kitab Sutasoma ini dibuat selama 3 tahun penuh tanpa berhenti.

Drama tari pewayangan yang mengambil dari kitab sutasoma ini dengan baik ditanggapi  oleh I Made Sukadana, I Wayan Purwanto dan I Wayan Jaya Merta dijadikan sebuah drama tari yang sangat baik, dimana semua karakter memakai topeng yang dibuat oleh Cokorda Raka Sedana seorang tokoh pembuat topeng dari desa Singapadu.

Drama tari pewayangan sutasoma yang mengambil tema Purusada Santha, mengajarkan tentang beberapa nilai seperti menyelesaikan semua permasalahan tanpa kekerasan, dan mengajarkan toleransi terhadap perbedaan dimana memiliki jiwa Bhineka Tunggal ika, berbeda beda tetapi tetap satu. Adapun bait Bhineka Tunggal Ika dibacakan secara khusus oleh bpk I Wayan Mudita Adyana.

Prof. I Nyoman Sedana, Ph.D membuka acara acara ini dengan mengapresiasi isi dari semangat Kakawin Sutasoma dan jiwa Bhineka Tunggal Ika, “ ini merupakan sumbangan yang sangat berarti untuk terwujudnya kedamaian dunia. Mr. Pino Confessa (Honorary Consul of Italy) memberikan sambutan yang sangat singkat setelah pentas drama tari, “ tidak bisa diungkapkan dengan kata kata tentang kebaikan dan keindahan acara ini”.  Mr. Pino juga menanggapi keindahan pameran fotografi, topeng, lontar dan lukisan.

 

Photo by Dede Yuda

 

House of Mask and Puppets Setia Darma

Mas, Br Tegal Bingin, Bali

Author: Akar Media

Share This Post On