Napak Tilas & Film I Gusti Ngurah Rai

PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA ‘I GUSTI NGURAH RAI’

NAPAK TILAS dan Film NGURAH RAI

 

ngurah-rai-bwMerdeka !

Om Swastyastu,

Napak Tilas merupakan kegiatan yang bertujuan mendidik generasi muda umumnya untuk mengingat, meneruskan dan mewariskan nilai-nilai perjuangan para pahlawan, mengingat generasi muda tidak mengalami langsung perjuangan bangsa dalam merebut dan menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan Bangsa Indonesia.

Oleh karena itu melalui pelaksanaan Napak Tilas menelusuri rute gerilya I Gusti Ngurah Rai diharapkan para peserta dapat dan mampu meningkatkan penghayatan terhadap nilai-nilai perjuangan para pahlawan, semangat patriotisme, kecintaan terhadap bangsa dan tanah air Indonesia, sikap disiplin dan mandiri, pantang menyerah akan selalu membara di hati sanubari penerus bangsa.

Di samping itu, kegiatan Napak Tilas diharapkan mampu memupuk rasa persatuan dan kesatuan serta menggalang kesetia-kawanan Bangsa Indonesia khususnya generasi muda.

Pedoman pelaksanaan Napak Tilas disusun guna memudahkan koordinasi dalam pelaksanaa Kegiatan, namun sukses tidaknya pelaksanaan Napak Tilas akan banyak ditentukan oleh semangat dan kesadaran yang tulus dari para peserta dalam upaya untuk melestarikan, jiwa semangat dan nilai-nilai 1945.

 

JADWAL NAPAK TILAS

Peserta Napak Tilas Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai mengambil start dari depan Kantor Gubernur Bali (Lap.Puputan Margarana) setelah selesai upacara Hari Pahlawan 10 November 2014 dan dilepas oleh Inspektur Upacara. Berakhir tanggal 20 November 2014 di Taman Pujaan Bangsa Margarana Tabanan.

Panitia Pelaksana

Napak Tilas Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai tahun 2014

Jalan Cempaka 6 Denpasar

Telpon (0361) 222465

www.ppmbali.info

E-mail : ppmbali@yahoo.com


 

FILM “NGURAH RAI

 

Sutradara                              : Dodid Widjanarko

Producer Eksekutif              : AA. Nanik Suryani

Producer                                : IGAA. Bintang Aryani

Research/Skenario             : Cok Sawitri

Ilustrasi Musik                      : Ayu Laksmi

Pemeran Ngurah Rai          : Ida Made Adnyana Gentorang

Pemeran Istri Ngurah Rai  : Ni Made Dwi Adnyani

Pemeran Tentara                 : Kodam IX Udayana

Danrem 163/Wirasatya

Bekangdam IX Udayana

Rider 741

 

Seluruh perjuangan didasari atas cinta. Seperti cinta salah seorang putra pertiwi kepada tanah airnya. Dialah, Ngurah Rai, pemuda kelahiran Pulau Dewata yang selalu merindukan manisnya kemerdekaan atas Ibu Pertiwi bernama Indonesia. Segala daya dan upaya dilakukan agar nikmatnya kemerdekaan menjadi nyata, bukan hanya wacana. Berbekal keyakinan dan jiwa kepemimpinan yang tangguh, Ngurah Rai berjuang mempertahankan harga diri bangsa di mata Jepang dan Belanda, juga di mata dunia.

Hanya rasa cintalah yang membuat Ngurah Rai mengorbankan jiwa dan raganya. Seperti pula perasaan jatuh cintanya pada seorang perempuan penari, yang dipersuntingnya di tengah hiruk-pikuk perjuangan menuju kemerdekaan. Pernikahan yang tidak mudah, tetapi membuat kehidupan menjadi indah bagi Ngurah Rai.

Seperti hubungan Ngurah Rai dengan Koenig, seorang pemimpin serdadu Belanda di wilayah Bali dan Lombok, yang akhirnya menjadi sahabat. Persahabatan yang tidak melunturkan pengabdiannya, justru membuat Ngurah Rai semakin menguatkan tekadnya terjun ke medan laga dengan semangat berkobar untuk Indonesia merdeka, walaupun di akhir perjuangannya Koenig-lah yang menewaskan Ngurah Rai

Dengan gagah-berani, Ngurah Rai memimpin para pemuda geriya untuk memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi hak anak bangsa. Semangat yang terus berkobar atas diri Ngurah Rai mampu menggiring pasukannya menempuh long march Gunung Agung dengan segala cerita bergulir di dalamnya. Cerita bahagia, sedih, duka, luka, hidup dan akhirnya gugur bergantian di medan laga sebagai pahlawan.. Hingga hanya kematianlah yang menyudahi perjuangan mereka, namun tidak dengan semangatnya.

Ngurah Rai, adalah langkahmu, sejarahmu, cintamu pada Bumi Indonesia Raya.

 Itulah sekelumit alur cerita film Ngurah Rai yang digarap oleh Putra Putri Bali melalui organisasi keluarga pejuang, PPM Prov. Bali. Film ini merupakan produksi film pertama yang berhasil diselesaikan dari 6 kali produksi dr rumah produksi yang berbeda sebelumnya yang tidak pernah tuntas. Digarap oleh PPM Bali dengan menggunakan 95 persen SDM Lokal Bali baik itu crew maupun pemain. Dibiayai oleh pemprov Bali melalui Dinas Kebudayaan Prov. Bali dan di dukung peralatan dan pemeran pasukan dari kodam IX Udayana, Film ini menghabiskan waktu shooting selama 7 hari non stop di lokasi sangeh, sungai ayung, Puri kesiman, Carangsari dan Pantai Lembeng. Ke depan, film ini nantinya akan dimanfaatkan sebagai media komunikasi generasi muda dengan sejarah perjuangan di Bali. PPM Bali sedang berfikir menggarap film ini menjadi tontonan layar lebar.


 Kehidupan Ngurah Rai

Kolonel TNI Anumerta I Gusti Ngurah Rai, lahir tanggal 30 Januari 1917 di Desa Carangsari, Petang, kab Badung, Bali. Putra kedua dari tiga bersaudara. Ayah beliau, I Gusti Ngurah Palung bekerja sebagai manca (setingkat camat). Ibu Beliau bernama I Gusti Ayu Kompiang.

Setelah menamatkan pendidikan HIS Denpasar dan MULO(Meer Uitgeberd Lager Onderwijs) di Malang, tahun 1936 melanjutkan pendidikan di Sekolah Kader Militer, Prayodha Gianyar Bali. Pada tahun 1940 dilantik sebagai Letnan II yang kemudian melanjutkan pendidikan di (CORO) Corps Opleiding Voor Reserve Officieren di Magelang dan Pendidikan Artileri di Malang.

Pada masa kependudukan Jepang, Ngurah Rai sempat menjadi intel sekutu untuk daerah Bali dan Lombok. Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, di Yogyakarta beliau diangkat menjadi komandan resimen TKR Sunda kecil dan berpangkat letnan kolonel. Saat kembali ke Bali dari Yogyakarta beliau mendapati bahwa belanda sudah menduduki Bali dengan mempengaruhi raja-raja Bali.

Bersama Ciung Wanara, pasukan kecil Ngurah Rai, pada tanggal 18 November 1946 menyerang Tabanan yang menghasilkan satu datasemen Belanda dengan persenjataan lengkap menyerah. Belanda mengerahkan kekuatannya dari seluruh Bali dan Lombok untuk melawan pasukan Ciung Wanara. Dalam pertempuran tersebut, pertahanan demi pertahanan yang dibentuk Ngurah Rai hancur hingga sampai pada pertahanan terakhir Ciung Wanara, desa Margarana, pertempuran terakhir pada tanggal 20 november 1946 yang dikenal dengan nama Puputan Margarana. (Puputan, dalam bahasa bali, berarti “habis-habisan”, sedangkan Margarana berarti “Pertempuran di Marga” Marga adalah sebuah desa ibukota kecamatan di pelosok Kabupaten Tabanan, Bali).

Pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra dan menaikkan pangkat beliau menjadi Brigjen TNI. Nama beliau juga diabadikan dalam nama bandar udara Bali, Bandara Ngurah Rai.

Author: Akar Media

Share This Post On